Negeri Empat Musim
Negeri 4 musim. Itulah mimpiku sekarang. Sebenarnya kata sekarang bukanlah kata tepat untuk menjadi keterangan waktu dari impianku itu. Karena sesungguhnya itu adalah mimpiku sedari dulu. ‘Sedari dulu’…seperti judul lagu Tompi saja, ya… Hm… memang dari dulu aku memimpikan negeri itu. Lalu mimpi itu kuhapus, kutumbuhkan lagi, kuhancurkan lagi, kubangun lagi, kubuang lagi, dan sekarang kusemai lagi…
Mimpi itu sebenarnya mimpi masa kecilku, ketika aku terpesona melihat salju di televisi. Sebagaimana aku terpesona melihat lingkaran-lingkaran gelombang air hujan yang jatuh pada genangan air. Semakin luas lingkaran yang terjadi segera setelah ia jatuh ke genangan air, semakin lemah gelombang yang terjadi. Dan terus…, terus…, terus…, sampai gelombang tersebut bertabrakan dengan gelombang lain sekaligus terbenam dibawah lingkaran baru yang terbentuk dari tetesan air berikutnya.
Demikian pula saat salju jatuh seperti yang terlihat dalam gambar di televisi itu…., aku terpesona dengan putih dan halusnya. Ia jatuh perlahan menutupi segala warna di mana-mana dengan warna putih yang ia punya. Ada sensasi dingin dan segar… (hehehe seperti iklan permen mint saja…), aku ingin merasakannya melalui telapak tanganku, melalui kulitku. Aku ingin merasakan hembusan anginnya. Aku mulai bermimpi…
Tapi layaknya sebuah mimpi, tak semuanya dapat terealisir. Setiap satu semangat muncul di hatiku, selalu kutemui pintu yang menghalanginya. Lalu mimpi itu hilang timbul selama periode remaja dan menjelang dewasaku. Sampai akhirnya sebuah kewajiban baru dalam kodratku sebagai seorang wanita menutup pintu itu.
Tapi entah kenapa juga, ketika suatu saat pikiran tentang melanjutkan pendidikan menjadi suatu wacana, kandaku ternyata mensupportku. Bahkan hanya beberapa hari sebelum ia meninggalkan kami untuk selamanya, kandaku itu tetap memberi dukungan untukku melanjutkan mimpiku itu, entah apa yang ada di benaknya saat itu…
Lalu mimpi kulupakan. Suatu hari setelah aku merasa kuat setelah kepergian kandaku itu, mimpi itu muncul lagi. Akan kubawa anak-anakku bersamaku, kataku dalam hati. Kami akan membuka lembaran baru dengan pengalaman baru di negeri baru. It could be a wonderful moment. Yaaap…kami akan sibuk dengan hal-hal baru…
Kemudian aku berjumpa dengannya dan menatap mata itu… Lalu aku sadar bahwa negeri 4 musim itu menjadi sesuatu yang tak ingin lagi kukejar. Ada hal lain yang rasanya lebih berarti, yang memberikan kenyamanan jauh di lubuk hati. Aku menginginkan hal lain, sesuatu tempat bersandar…
Hari berganti hari, berganti bulan, berganti tahun… dan suatu hari aku sadar aku hanya berkhayal. Berhentilah berfatamorgana, kata sepupuku. Kau tak tau diri, sebuah cemooh masuk dalam benakku. Sungguh aku malu hati. Dan aku tak berani menatap matanya lagi, aku kuatir segala yang kusimpan akan menjadi jelas dalam pandangannya untuk memaksanya mengeluarkan kata: maaf kau salah mengerti… dan apa tak kau sadari aku tak sendiri…
Oooh…, ini membuatku ingin bersembunyi. Lalu negeri 4 musim itu, lagi-lagi seolah menjadi suatu solusi, sebuah tempat untuk berlari.
Yaah…entahlah apa yang dapat kukatakan lagi tentang mimpiku ini. Kadang ia begitu kuat menjerat pikiranku, lalu hilang tertimbuan suatu masalah yang membutuhkan konsentrasiku. Sekian puluh tahun, aku tak dapat merealisasikannya. Kadang hampir tersentuh, lalu menjauh lagi. Kadang rasanya bisa kuraih tapi tiba-tiba terbang tinggi.
Kini, meski pelatihan untuk persiapan bahasa itu tak dapat kuikuti, aku tak patah arang, rasanya mimpi itu masih bersemayam di hati. Akan kucoba lagi. Aku akan bersiap sendiri di sini…
Mudah-mudahan kelak, kita akan ke sana nak…, berdoalah untuk kita… (kumohon ya Rabb, berilah jalan bagi kami, dan beasiswa sekolah lanjut itu ridhoilah aku agar dapat meraihnya).
19.02.12