Makin Berisi
Beberapa bulan terakhir ini rasanya berat badanku mulai merangkak naik. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Mama mulai ndut deh…, kata si bungsuku. Hm…Dia memang paling perhatian dari kuku sampai ke ujung rambutku.
Oh ya… belakangan ini dia juga sudah protes karena menurutnya rambutku sudah terlalu panjang. Dan dia benar, biasanya begitu ujungnya lebih dari pinggang aku mulai merapikan dan memotongnya di batas pinggang. Sekarang sudah beberapa bulan tak kupotong. Mungkin sudah terlihat tak terurus, apalagi aku paling malas sisiran. Kalau sedang tak kugelung tentu jadinya riap-riap tak keruan. Aaah…nak, mama lagi malas memikirkan rambut. Banyak hal lain yang kupikirkan…
Kini berat tubuhku yang makin bertambah itu jadi bahan pembicaraannya. Dia tak sendirian. Teman-temanku juga mulai berkomentar hal yang sama. Bedanya teman-temanku menganggap ini kemajuan. Aku jadi sedikit kuatir mengingat tinggiku yang aku tau persis berapa senti itu. Meski demikian anakku yang lain masih memberi toleransi untuk beberapa kilo lagi… he..he…
Biasanya kalau lagi banyak yang kupikirkan aku justru makin kurus, kok sekarang naik ya? Atau sesunggguhnya saat ini aku tak terlalu memikirkan hal-hal yang biasanya jadi bahan pemikiran? Menikmati saja apa yang tak bisa dihindari? Menjalani saja apa yang terjadi?
Rasa-rasanya selera makanku tak berubah, masih seperti yang dulu. Meski banyak makan aku biasanya sulit gemuk. Tapi sekarang beberapa bagian tubuhku mulai berisi, sementara yang sudah berisi tampak makin berisi, alamaaak… Jadi kepikiran oleh raga, mulai rajin naik timbangan, dan terus mengitung-hitung bobot maksimal yang harus kujauhi…
Sesungguhnya aku senang bisa sedikit gemuk. Gemuk kan salah satu tanda makmur hehehe… Meski pertanda ini tak selalu benar. Tapi kalaupun gemuk maunya jangan banyak-banyak, dengan sebaran yang cukup merata dan tidak menumpuk dibeberapa bagian tubuh saja. Gimana caranya ya…







